Posted on

Pengembangan Agro Industri dan Tenaga Kerja Pedesaan di Indonesia

Pengembangan Agro Industri dan Tenaga Kerja

Pengembangan Agro Industri dan Tenaga Kerja

Pedesaan di Indonesia

Oleh M. Tambunan, Kabul Santoso dan Sri Hartono

Diringkas Oleh Malindo Andhi Saputra Marpaung

 

Pendahuluan

 

Persoalan definisi konsep agro industri telah banyak ditulis dalam berbagai makalah dan buku, namun belum menemukan titik masuk dalam mengembangkan agro industri untuk pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di pedesaan. Untuk itu digunakan dua analisis yaitu makro dan mikro. Ditingkat makro perlu diadakan evaluasi terhadap strategi industrialisasi berdasarkan input (ISI) dalam kaitannya dengan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan. Implementasi ini berhubungan dengan tingkat industrialisasi termasuk agro industri di pedesaan. Di tingkat mikro perlu dianalisis sifat pasif ditinjau dari segi penawaran (supply) dan permintaan (demand) yang dihadapi oleh industri pertanian tersebut. Hasil produksi agro industri di pedesaan diduga memiliki elastisitas permintaan terhadap perubahan pendapatan yang berbeda-beda, sehingga kerapatan pertumbuhan tipe-tipe agro industri berbeda pula. Apabila dugaan ini benar, pengembangan agro industri akan berbeda-beda menurut pasar yang dihadapi. Oleh karena itu perlu dikaji pengembangan setiap agro industri tersebut.

Makalah ini dibagi dalam tiga bagian yaitu peranan agro industri dalam GDP dan tenaga kerja pedesaan, evaluasi strategi pembangunan melalui subtitusi impor dengan perkembangan pertanian dan industri perdesaan (agro industri merupakan bagian terbesar), beberapa kecenderungan perkembangan agro industri di pedesaan, kendala di sektor pertanian dan beberapa kesimpulan dan implikasi yang akan menutup makalah ini.

 

Peranan Agro Industri dan Strategi Industrialisasi Pedesaan

 

Pengertian Agro Industri

Ada perbedaan pendapat mengenai pengertian agro industry, agro based industry , dan agro business. Sebagai titik tolak , pendapatan yang dikumpulkan oleh Benyamin White mengartikan agro industry dan agro industry based sebagai berikut:

Agro industry can be define loosely as certain forms of agricultural (livestock, fisheries) production itself. In particular, those which are tending toward an industrial character, highly commercialised normaly Involving significant investment and/or working capital. The agriculture production units themselves are not necessary large scale.

Dalam pengertian ini sudah termasuk agro processor yang dapat diurutkan kedalam suatu kegiatan agroibisnis yang lebih luas sedangkan agro based industry didefinisikan sebagai berikut :

Agro based industries on the upstream (input) or downstream (output processing) side of agricultural production(generally limited to the first stage of agro linked input production of processing, or at least to the relatively immediate stages). Thus, (for example) we would include on the input side the manufacture of agricultural implements and livestock feed, but not the manufacture of the machines that make agricultural implements, nor the production of the trucks which transport animal feed, on the output side, we would include rice-milling, but not the marry-rice based food industry; the drying and processing of tobacco, but not the cigarette industry, and the processing of tea, but not the manufacture of teh botol or the bottles and labels of the botol, and so on.

Untuk menambah pemahaman tentang ekonomi pedesaan, perlu ditekankan bahwa pengembangan agro industry merupakan kegiatan permulaan pengembangan aktivitas ’nonpertanian’ (sektor industry) di pedesaan. Selanjutnya dengan inidapat dimengerti peranan industri dalam penyerapan tenaga kerja di pedesaan dan kota. Pengembangan agro industri mempunyai dimensi dalam peningkatan produktivitas, pendapatan, kesempatan kerja dan distribusi pendapatan.

 

Dimensi Persoalan dan Sumbagan Agro Industri dalam GDP dan Tenaga Kerja

Dalam rangka pembangunan perekonomian nasional, pembangunan pertanian berperan dalam peningkatan produksi, pendapatan petani dan terutama meningkatkan ekspor, Untuk mencapai tujuan tersebut, kalangan ekonom dan pengambil keputusan pada pemerintah merasa penting untuk mendorong agro industri pengolahan hasil pertanian. Peranan agro industri dapat diukur dari sumbangannya terhadap value added dan penyerapan tenaga kerja terutama angkatan kerja di pedesaan. Secara nasional angkatan kerja berjumlah 2 juta per tahun, dan terkonsentrasi di pedesaan. Sumbangan agro industri dalam GDP tahun 1975 mencapai 7-9 persen, tetapi menurun menjadi 7,6 persen pada tahun 1980. Agro industri mampu menyerap tenaga kerja 2,74 juta pada tahun 1975 dan 3,56 juta pada tahun 1980. Pada periode 1975-1980 daya absorpsi rata-rata tenaga kerja oleh agro industri adalah sebesar 5,68 persen per tahun, angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan misalnya industri besar, seperti pabrik semen dan pupuk yang hanya mencapai 0,53 persen. Agar industri sedang dan besar banyak menyumbangkan untuk penerimaan negara dari sektor ekspor komoditas pertanian (nonmigas), sumbangan agro industri dalam ekspor memiliki pola dualisme. Pola dualisme ini masih berlanjut yaitu dengan pemerintah banyak membangun sektor pertanian modern yang berukuran sedang dan besar melalui BUMN dan sangat sedikit diperhatikan industri berskala rumah tangga dan kecil yang tersebar di berbagai pelosok sebagaimana telah dikemukakan.

Sebenarnya untuk keadaan perekonomian Indonesia sekarang tidak memungkinkan untuk mengadakan pilihan ekstrem padat modal atau padat karya. Strategi pembangunan industri nasional yang member kondisi kondusif terhadap pertumbuhan agro industri berskala sedang/kecil dan rumah tangga ialah apabila perekonomian mampu mentransformasi ekonomi melalui kebijaksanaan harga, moneter, fiskal dan pembiayaan proyek. Pemerintah juga dituntut untuk membuat pilihan industri secara umum.

 

Evaluasi Strategi Industrialisasi Pedesaan Berdasarkan Subtitusi Impor dan Ekonomi Pedesaan

Sumber industrialisasi paling sedikit ada empat yaitu a) menggandakan permintaan dalam negeri, b) pengaruh ekspor, c) subtitusi impor, dan d) kemajuan teknologi. Sejak pelita I, Indonesia menganut strategi atau kebijaksanaan import substitution industriliazation (ISI). Strategi dan tujuan ISI adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi (growth oriented strategy) dengan mengekspansi dan melindungi industri manufaktur untuk menambah penerimaan seluruh industri yang terlibat. Secara singkat untuk memafaatkan peranana pasar dalam negeri yang besar, pemerintah membatasi impor dengan bebagai kebijaksanaan seperti kuota, tarif impor yang tinggi dan sebaginya untuk melindungi industri yang baru tumbuh (an invant industry argument) di dalam negeri

Kebijaksanaan pemerintah untuk merangsang investasi di Indonesia selam kurun waktu empat pelita, dengan cara memberikan berbagi kemudahan memperoleh kredit, misalnya dengan memberi suku bunga yang rendah, keringanan pajak, ongkos urus yang mudah. Kemudahan ini umumnya diberikan pada industri yang berukuran sedang dan besar yang dimiliki oleh pengusaha dalam dan luar negeri.

Dalam kurun waktu empat pelita terlihat ISI tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan, sebab a) industri yang dibangun dan dilindingi adalah industri besar. Sebagai akibat dari berbagai proteksi, industri ini tumbuh menjadi industri yang tidak efisien dan kurang berkompetisi di pasar internasional, b) transfer teknologi dengan ISI tidak berjalan, c) efektifitas perananya dalam menyerap tenaga kerja tidak besar.

Banyak ekonom berpendapat agar strategi ISI dialihkan pada export promotion (EP), atau melanjutkan ISI di tahap ke dua. Banyak ekonom dan analisis lainya berpendapat bahwa EP akan membuat perekonomian Indonesia tumbuh bertambah cepat. Salah satu penyebab ketidakberhasilan ISI yaitu pemilihan teknologi dalam ISI.

Kaitan kedua ISI dan ekonomi pedesaan adalah apabila barang dan jasa yang diproduksi dengan teknologi padat modal dibawah ISI sering kali mensubtitusi barang yang diproduksi agro industri di pedesaan. Pendekatan tradisional memandang keterkaitan pertanian dengan industri adalah: sektor pertanian sebagai penyedia bahan baku industri (input market). Penyedia tenaga kerja (labour market) yang dianggap berlimpah dan tempat pelemparan hasil industri (market for industrial goods). Akan tetapi dalam hubungnnya terhadap agro industri perlu dilihat interaksi teknologi, pasar modal dan tenaga kerja dalam kedua sektor tersebut.

 

Beberapa Kecenderungan Perkembangan

Argo Industri di Pedesaan

 

Ada empat kelompok industri di pedesaan yang paling banyak bahkan mendominasi penyerapan tenaga kerja non pertanian, pedesaan dan kota yaitu a) industri bahan bangunan (construction industry), b) industri pengolahan hasil pertanian (agro processor), yang mengelolah hasil pertanian sebagai bahan baku untuk industri lain, c) industri bahan makanan (food processor) yang mengelolah hasil pertanian sebagai bahan konsumsi sebagai beragam jenis kerupuk dan kacang garing serta, d) penyalur pembuat input dan alat pertanian. Industri ini bersakala rumah tangga kecil dan beberapa berukuran besar.

 

 

 

Masalah Pengembangan Industri dan Argo Industri Pedesaan

Masalah yang dihadapi oleh agro industri ialah a) usaha industri rumah tangga sifatnya mudah keluar (terlepas) dari pasar, artinya sensitif terhadap perubahan harga input dan output yang tidak dapat dikembalikan, b) prodiktivitas industri ini rendah dan upah nya juga rendah, c) jumlah modal untuk tiap modal usaha dapat dikatakan sangat kecil sehingga produktifitas tenaga kerja juga rendah, dan d) pekerja di sektor industri kecil dan rumah tangga biasanya bekerja sebagai pekerja sampingan untuk tambahan penghasilan.

Suatu penelitian terhadap industri genteng di boyolali menunjukkan bahwa rendahnya produktivitas, harga dan tingkat upah disebabkan oleh pasar output industri ini terisolasi secara politik dan ekonomi di pasar lokal. Apabila hipotesis diatas benar, jika argo industri di pedesaan tersebut terisolasi pasarnya maka kenaikan pendapatan penduduk tidak atau kecil pengaruhnya terhadap permintaan output indsutri tersebut : artinya hasil industri pedesaan dicirikan oleh sifat income inelastic.

Inti strategi pengembangan agro industri harus mampu mempersatukan tujuan berikut : a) pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, b) pilihan lokasi industri yang efisien tetapi memakai tenaga kerja dalam jumlah besar, dan c) memiliki keadaan ukuran industri menurut ukuran a) dan b) dan prioritas industri di lokasi yang dipilih harus mampu memperbesar pemasaran hasil pertanian dan menyerap tenaga kerja untuk pertumbuhan ekonomi desa.

 

Pengembangan Agro Industri melalui Pendekatan Pasar Modal

Untuk melihat perkembangan argo industri perdesaan, perlu ditelaah interaksi sektor pertanian dengan nonpertanian ditinjau dari pasar modal. Usaha swasembada pangan yang diberi jargon green revolution telah berhasil meningkatan produksi padi (beras) secara nasional juga mengantarkan ribuan pertanian yang sukses. Petani yang sukses tersebut berhasil meningkatkan keuntungan atau pendapatan rumah tangga petani. Peningkatan pendapatan ini merupakan sumber potensial untuk tabungan dan investasi yang dapat digunakan untuk sumber dana pembangunan. Hal ini berarti ada potensi dan yang dapat dimobilisasi keluar sektor pertanian. itu berarti bahwa dalam pengembangan argo industri interaksi sektor pertanian dalam pasar modal, tenaga kerja dan struktur agrarian perlu dipahami. Semakin besar pendapatan dari sektor pertanian, semakin besar pendapatan dari sektor nonpertanian (industri) keterkaitan kedua sektor ini harus dilihat dari segi permintaan dan penawaran, petani telah mampu melakukan tabungan (saving=invests) sedang dari segi permintaan, berarti petani memiliki surplus yang akan menambah kekuatan permintaan terhadap hasil industri di pedesaan.

 

Beberapa Pengalaman Negara Lain

Studi di Bangladesh, beberapa negara bagian India, Korea Selatan, China dan Taiwan menunjukkan bahwa pertumbuhan industri pedesaan ditunjang oleh kenaikan produktifitas pertanian. Di jepang walaupun pertumbuhan pertanian pada abad ke-19 rendah. Peningkatan produktifitas pertanian merupakan tulang punggung pertumbuhan industri. Di negara-negara tadi, program pembangunan pertanian selalu diikuti oleh perbaikan struktur pemilik lahan melalui land-reform atau agrarian reform. Walaupun belum ada penelitian sejenis di Indonesia, mungkin pengalaman perkembangan industri pedesaan di negara tersebut tidak berbeda denagn pengembangan pembangunan industri pedesaan di Indonesia.

Ada dua pola pertumbuhan industri pedesaan di New Industrilized Countries (NIC) yang dipilih, yaitu a) industri pedesaan dikembangkan bersama dengan pembangunan pertanian, dan b) perlu mencapai pertumbuhan pertanian yang tinggi sebagai prakondisi untuk pertumbuhan industri pedesaan. Pola pertumbuhan apapun yang dipilih, pengalaman berbagi NIC menunjukkan peningkatan pendapatan petani akan menciptakan iklim ekonomi yang subur bagi pertumbuhan industri pedesaan. Pertumbuhan sektor pertanian yang pesat akan meningkatkan pendapatan petani dan kemudian menjadi kondisi yang baik untuk pertumbuhan industri.

Model pertumbuhan industri pedesaan di Indonesia perlu memperhatikan aspek mekanisme pasar modal dari dan ke tangan swasta (petani). Peranan pemerintah hanya pada penyediaan serta pembangunan infrastruktur dan lembaga perkreditan yang siap membantu masyarakat luas, karena pembangunan industri, termasuk agro industri, membutuhkan modal yang tidak sedikit. Hal ini telah direfleksikan pada deregulasi perbankan yang dilakukan oleh pemerintah.

 

Kendala di Sektor Pertanian

Kebijaksanaan diversivikasi pertanian dan agro industri

Hubungan usaha diversifikasi pertanian dengan agro industri dapat diuraiakan sebagai berikut. Pengembangan industri di pedesaan pada awalnya membutukan bahan baku dalam jumlah yang relatif besar dan dalam kualitas tertentu. Kebijaksanaan pemerintah yang menekankan swasembada beras dapat memperkecil peluang mengembangkan agro industri. Kecuali industri pengolahan padi (rice-mills), karena produksi beras umumnya dapat langsung dikonsumsi. Usaha diversifikasi pertanian akan memperluas peluang menumbuhkan agro industri memiliki potensi yang besar untuk menambah peluang bekerja di pedesaan.

Pertumbuhan agro industri akan mendorong terciptanya pasar yang terintegrasi secara vertical (vertical market intergeration) dalam kegiatan produksi, pengelolahan dan pemasaran pada pasar input dan output pertanain. Disamping itu, agro industri akan memperlancar dan memperbaiki penyimpangan dan pemasaran hasil. Pertumbuhan vertical market intergeration secara langsung dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dari dalam dan luar negeri. Dalam berbagai kegiatan ini, agro industri berperan sebagai kekuatan intermediate demand dalam pengembangan pertanian. Karena itu, kegiatan argo industri merupakan kekuatan untuk meningkatkan produktifitas pertanian, ditinjau dari sudut penyalur input pertanian, dan dari sudut pengolahan hasil pertanian.

Salah satu contoh pengembangan vertical market intergeration yang berpusat (core) pada pengembangan argo industri adalah sistem PIR. Kegiatan PIR ini dapat disebut sebagai kegiatan diversifikasi pertanian secara regional, pembangunan argo industri akan meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja. Dengan sistem PIR diharapkan dapat ditranformasikan pertanian berskala kecil menjadi pertanian yang produktif, dan peserta (plasma) memperoleh keuntungan.

Ada beberapa catatan dalam setiap melakukan konsep PIR untuk pengembangan agro industri: a) bagaimanapun juga konsep PIR merupakan perkembanagn konsep perkebunana milik negara (PTP), b)kegiatan perkebunan biasanya memiliki linkage yang kecil dengan desa sekitarnya, c) perkebunan biasanya memilki organisasi yang terintegrasi, sehingga profit linkage dengan ekonomi desa sangat kecil. Karena itu, pola perkembangaan perkebunan tetap sedikit mempengaruhi pengembangan pertanian di sekitarnya.

Belakangan ini banyak dikemukakan berbagai kekhawatiran terhadap pelaksanaan sistem PIR, terutama jika diterapkan pada pertanain berskala kecil (small holder) yang masih tradisional, masalahnya, perluasan argo industri pada pertanian semacam itu akn memperlemah posisi petani, sehingga munkin daya absobsi tenaga kerja subsektor pertanian ini akan menurun. Banyak menduga bahwa argo industri dengan sistem PIR berperan sebagai kekuatan pasar monopsoni. Sementara petani memperroduksi hasil pertanian pada pasar kompetitif. Jika hal ini terjadi, sektor pertanian tradisional, menyerap tenaga kerja terbesar akan melemah. Kendatipun demikian apapun modal pasar yang dihadapi dengan pola berpikit second desk kehadiran argo industri di pedesaan dan perkotaan dapat menjamin penyaluran hasil pertanian, sehingga merangsang petani untuk lebih berspesialisasi dalam konteks regional, atau berdiversifikasi secara horizontal sesuai dengan keadaan fisiklahan pertanian yang dimilikinya. Pola pengembangan “bapak angkat” di dalam industri mungkin memiliki kemiripan dengan pola PIR.

Salah satu implikasi pembahasan di sini adalah perlu dicari suatu alternatif baru selain pola PIR untuk pengembanagan agro industri di pedesaan.

 

 

Masalah Kebijaksanaan Harga Padi

Pendekatan utama dalam pembangunan pertanian adalah pendekatan komoditas. Pendekatan komoditas sebaiknya berorientasi pada peningkatan pendapatan. Ada beberapa masalah dalam pendekatan komoditas di sektor pertanian rakyat. Salah satu adalah kecenderungan stabilitas harga, bukan stabilisasi pendapatan petani. Suatu penelitian menunjukkan bahwa swasembada beras berpengaruh negatif terhadap produksi tanaman paliwija lainnya. Kecuali untuk tanaman padi, produktivitas tanaman pangan dan tanaman perkebunan, baik yang dikelolah oleh BUMN maupun rakyat seperti karet, coklat, kelapa sawit, teh, dan kelapa, secara umum belum menggembirakan. Rendahnya produktivitas tanaman ini mempunyai dampak terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan petani.

Untuk meningkatkan produksi padi, pemerintah memberi subsidi pupuk yang jumlahnya milyaran rupiah pertahun dan menetapkan harga tertinggi (pada masa paceklik) dan harga terendah (pada masa panen). Kebijaksanaan harga tertinggi dan harga terendah ini bertujuan untuk menetapkan harga yang dapat dijangkau (alias rendah) oleh konsumen. Banyak dugaan bahwa jarak harga tertinggi dan terendah terlalu kecil sehingga usaha swasta kurang memiliki insentif memasuki operasi pasar. Hal ini disebabkan “profit margin” sangat kecil.

Para analisis mengemukakan dampak kebijaksanaan harga ini kurang memberi peluang untuk meningkatkan pendapat petani, karena harga nyata (real price) beras/padi diperetahankan konstan, harga nyata dari petani secara tidak langsung ditransfer dari produsen ke konsumen melalui operasi pasar Bulog. Program swasembada beras sendiri bertujuan untuk memperbesar jumlah produksi di pasar. Jumlah beras akan selalu menurunkan harga. Sehingga potensi produsen berada pada posisi yang tidak mengguntungkan.

Karena petani padi merupakan jumlah terbesar petani, maka kebijaksanaaharga padi secara langsung mempengaruhi pendapatan sebagian besat petani, di samping itu, program swasembada beras telah memperkecil kemungkinan diversifikasi pertanian, yang seyogyanya merupakan sumber bahan baku untuk industri kecil. Dengan demikian, kebijaksanaan harga secara tidak langsung mengurangi potensi tabungan masyarakat pedesaan, yang berarti juga mengurangi tabungan untuk proses industrialisasi.

 

Kesimpulan dan Implikasi

 

Strategi subtitusi impor ternyata tidak membantu perkembangan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan. ISI telah menjadikan pertanian berbiaya tinggi dan kurang efisien . Sebab kenaikan tarif impor yang tinggi mengakibatkan modal yang dibutuhkan sektor pertanian menjadi mahal, padahal modal (ratio modal per tenaga kerja) yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian cukup tinggi. Selain itu ISI mengakibatkan term of trade hasil pertanian terhadap non pertanian tidak menguntungkan petani (term of trade against farmers).

Hubungan kenaikan produktivitas dan pendapatan petani dengan industrialisasi berperan dalam tiga sisi pembangunan, yaitu: a) dari sisi “permintaan agrerat”, sektor pertanian dapat memperbesar economic base, seperti daya serappasar untuk hasil industri, b) memperbesar tax based, yang dapat menjadi sumber dana yang efektif untuk pembangunan.

Perkembangan industri rumah tangga di pedesaan yang mempunyai tingkat pendapatan lebih rendah dari pendapatan buruh tani memberikan bukti bahwa industri di pedesaan pada umumnya merupakan tempat pelemparan tenaga kerja dari sektor pertanian. Modal industri pedesaan yang relatif rendah dan tingkat penerimaan yang rendah juga membuktikan bahwa industri rumah tangga di pedesaan sifatnya (sementara) inferior. Sebab apabila modal dari kota masuk pada jenis industri yang sama, maka indstri pedesaan trsebut otomatis akan tidak mampu mempertahankan diri.

 

 

About these ads

About jehovaimmeka

LOVE AND RESPECT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s